315 Kilometer [end]

Reads
289
Votes
13
Parts
13
Vote
Report
Penulis Andi Yudaprakasa

11. Rumah Berpulang

15.42 WIB
315 km dari Surabaya

Suara kemeretak bebatuan terdengar nyaring saat roda motor Yatra melintas, melibas jalan tanah berbatu dan berkerikil yang membelah desanya.

Bentang persawahan padi yang basah menyambutnya dengan petrikor— aroma tanah basah yang khas. Berbingkai hijau pepohonan sengon yang meneduhi. Suara- suara serangga berkerik riuh menghindar burung- burung pipit yang memburu mereka.

Yatra melajukan motornya perlahan.
Suara mesin dua silindernya berdengung lembut pada RPM rendah.

Ada sebuah perasaan yang tak bisa ia lukiskan.
Setelah berkendara lebih dari 10 jam lamanya.
Setelah berkendara sekitar 315 kilometer jauhnya.

Kini ia tiba di gerbang desa.

Rumah- rumah warga yang sederhana. Pekarangan kecil yang ditanami sayur dan ramban untuk konsumsi sehari- hari. Suara sapu korek ibu- ibu yang menyapu tanah.
Dan suara anak- anak kecil yang berlarian, bermain bola di lapangan.

Ia melintasi petak kebun milik Bapak yang terletak di dekat mushola.

Mata Yatra melirik kebun yang nampak rimbun itu.
Rimbun hijau tanaman tomat yang diikat pada ajir- ajir bambu agar berdiri tegak, dengan buah- buah berwarna merah yang berumpun memberi aksen kontras.

Kebun kecil yang Bapak rawat setiap hari, sepenuh hati.
Kebun kecil tak seberapa yang telah menghidupi keluarganya.
Kebun kecil tak seberapa yang telah membeli susunya.
Kebun kecil yang dulu ia hina saat menggebu ingin bekerja di Surabaya.

Yatra seolah bisa melihat bayangannya sendiri bersama Bapak dulu.
Yatra yang masih SD, begitu ceria membantu Bapak memasang plastik mulsa. Berlarian merasakan dingin tanah yang baru saja dicangkul.
Mencari cacing yang akan ia gunakan sebagai umpan untuk memancing ikan di sungai belakang.

Yatra tak menyangka akan merasa sedalam ini melihat kebun Bapak.

-bruuuuum.

Suara motor scrambler Yatra seolah memberi tahu kepulangannya.
Mendekati rumah yang ada di ujung desa.
Rumah masa kecilnya yang kini tak lagi terasa sama.

Beberapa warga berjalan, berpapasan dengannya, menatapnya lekat saat Yatra melintas.
Yatra tak menggubris mereka, ia terus melajukan motor menuju rumah.

Dan Yatra melihatnya. Di balik pepohonan di ujung jalan.

Rumah sederhana berbentuk limas. Dengan tiang- tiang kayu yang berdiri mengitari. Rumah sederhana dengan pekarangan kecil yang tumbuh subur.
Dengan suara air mengalir di saluran irigasi depan.

Ibu sedang berada di depan teras, menyalami beberapa tetangga yang baru saja pulang.

Ibu bediri diam, menyipitkan mata memperhatikan seseorang yang tengah memarkir motornya di bawah pohon rambutan besar.

Lalu ibu menahan nafas, matanya melebar menyadari siapa yang datang saat Yatra melepas helm nya.

"Ibu," mata Yatra membasah. Ia menghambur mencium tangan ibu dan segera mendekapnya. Dan baru Yatra sadar betapa kecil tubuh ibunya saat ia memeluknya.

"Le, anakku," ujar ibu parau. Matanya juga membasah, menciumi kepala Yatra berkali- kali.
"Akhirnya kamu pulang."

"Bapak di—?"

"..."

Ibu tak bisa berkata- kata. Ia hanya mengangguk dengan bibir gemetar, mengusap air matanya dengan lengan daster.

"Aku mau ketemu Bapak," ujar Yatra cepat.

Ibu tersenyum. Mengangguk.

Masih mengenakan jaket, boots dan ransel militernya. Yatra berlari cepat. Ia berlari melewati jalanan tanah melintasi kebun sengon.
Melintasi jalan setapak sejauh 200 meter di titik terujung desa.

"Bapak!!" panggil Yatra.

Lalu Yatra melambatkan larinya saat mendekati tempat itu.
Ia menarik nafas panjang, mencoba menahan perasaan. Matanya lekat menatap di depan sana.

"..."

Yatra tak bersuara, berjalan perlahan mendekat.
Sepatu bootsnya yang terlihat sedikit kotor karena debu perjalanan sejauh 315 kilometer, kini semakin kotor karena tanah basah.

Dan lalu Yatra berhenti melangkah.

Matanya basah menatap gundukan tanah merah bertabur bunga di depan kakinya.
Tanah merah yang masih baru, mengubur jasad Bapak subuh hari ini.

Yatra berlutut, memegangi nisan Bapak.
Dengan suara lirih dan mata yang basah, Yatra berkata.

"Bapak, aku pulang."


Other Stories
Hujan Yang Tak Dirindukan

Perjalanan menuju kebun karet harus melalui jalan bertanah merah. Nyawa tak jarang banyak ...

Hantu Dan Hati

Di tengah duka dan rutinitasnya berjualan bunga, seorang pemuda menyadari bahwa ia tidak s ...

Ayudiah Dan Kantini

Waktu terasa lambat karena pahitnya hidup, namun rasa syukur atas persahabatan Ayudyah dan ...

Free Mind

KITA j e d a .... sepertinya waktu tak akan pernah berpihak pada kita lagi setelah aku ...

Cinta Di 7 Keajaiban Dunia

Menjelang pernikahan, Devi dan Dimas ditugaskan meliput 7 keajaiban dunia. Pertemuan Devi ...

Takdir Cinta

Di balik keluarga yang tampak sempurna, tersimpan rahasia pahit: sang suami memilih pria l ...

Download Titik & Koma